SEMUA MATA TERTUJU PADAMU


Anita acapkali bercerita tentang ketidakpuasannya terhadap porsi tubuhnya yang tak menarik dan bongsor. Dia seringkali merasa risih jika berada di dekat cewek-cewek langsing dan seksi kebanyakan. Karna yang tertanam dalam pikirannya “Cewek langsing adalah cantik dan seksi.” Tanpa disadari pikiran ini membahana dalam otaknya.
“Ih, I think Ican have this body.”
“Hmmm, biasa aja kali Sob. Jangan menanamkan pemikiran yang itu lagi! Yang penting kita masih diberi kesehatan oleh Allah. Mau kurus kek, mau gemuk kek, yang penting sehatttt...”
“Itu kan katamu. Karna kebetulan dirimu punya badan kecil.”
“Karna badanku kecil, harusnya aku juga minta digemukkan dunk. Hmm... tapi gak ku lakukan. Karna yang penting dalam menjalani hari-hari itu adalah kesehatan. Buat apa berbadan langsing tapi sakit-sakitan.”
“Buat apa juga bertubuh gemuk yang mengakibatkan banyak penyakit yang bersarang?”
“No, commentlah.”
“Slalu seperti tu.”
Meski tubuh Anita seperti itu tapi dia memiliki banyak teman. Mungkin karna sifat humorisnya dan keterbukaannya dalam menilai sesuatu. Anita dan teman-temannya sering bepergian bersama layaknya kongko-kongko anak remaja saat ini.
“Padat banget sih ini Mall?”
“Biasa kali Nit. Namanya juga ada bintang tamu dari Jakarta, Indra L. Brugman gitu loh. Siapa yang gak kenal gitu. Siapa yang gak ingin lihat,” kebetulan saat itu reputasi Indra lagi naik daun.
“Wow, Nit! Liat tu!”
“Ngeledek nih?”
“Bukan, tapi...”
“Awww, sakit...,” tiba-tiba cewek bertubuh gemuk menjepit badan Anita yang kebetulan berada di sampingnya.
“Sesak Nit, kita keluar saja ya!”
“Iya... iya ayo!” kamipun segera lepas landas keluar dari mall tersebut.
“Itu tu akibatnya kalo kita bertubuh gemuk. Kita tak tahu ada orang yang merasa terdzhalimi oleh kita.”
“Alah Nit, itu biasa kali. Namanya juga keramaian. Jika kita tak ingin merasa terdzhalimi, ya kita beranjak dari tempat itu. Kalo kita masih bertahan disana, bukannya orang itu yang mendzhalimi kita. Tapi diri kita sendiri.”
“Iyelah Ustadzhah....”
“Dibilangin malah ngeyel. Eh, tapi masih mending kamu Nit. Itu artinya masih ada yang lebih gemuk dari kamu. Jadi ngapain juga kamu mesti nyoba beribu obat pelangsing, gak makan-makan karna diet. Bisa-bisa bukannya langsing, eh malah jadi tiang listrik.”
“Wow....”
“Kenapa Nit?”
“Lihat cewek itu! Seperti itu yang ku mau ‘Seluruh mata tertuju padamu’ sempurna....”
Seorang cewek berparas manis dengan rambut terurai hingga pinggang hitam mengkilau, tinggi semampai, kulit putih, alis mata tebal bak semut beriring, mata merona dengan coklat irisnya, bibir merah merekah, body seksi seperti gitar spanyol berjalan lenggak-lenggok dengan menggunakan high-hills, baju yang digunakan kurang bahan sehingga memperlihatkan lekuk-lekuk tubuhnya. Tak heran semua mata lelaki di mall itu terbelalak melihatnya. Sekarang dia persis berada di hadapan kami. Dan tiba-tiba kami mendengar bunyi sesuatu.
“Hehe... maaf! Aku lapar,” cewek berparas manis itu merebut makanan yang berada di tanganku.
“Lapar????? Kenapa bisa begitu Mbak?”
“Hehe, program diet.”
“Hah... Cape de,” karena kaget tangan kami melayang ke jidad. Cewek itu berlalu dari kami menuju kerumunan massa yang hiruk-pikuk berharap bisa berada disamping Indra L. Brugman yang jadi idola mereka. Kami beradu pandang.
“Mau sepert itu?”
“Hehe,” Anita cengengesan.”
“Ya sudah, pulang Yuk!”
“Hah... hah... hah... hah... Aduh perutku sakit bangettttt....” cewek yang tadi kembali berada di hadapan kami dan tubuhnya rubuh ke Anita.
“Ikh buat malu kita saja sebagai cewek, bajunya kekurangan bahan lagi.”
“Ya, sudah tutupin pake kerudungmu dulu napa! Kerudungmu kan seperti karung goni tu.”
“Enak aja.”
“Buruan!!! Berat neh.”
“Terus?”
“Mau bantuin gak neh? Membantu orang itu gak boleh pilah-pilih! Kan Buk Ustadzhah sendiri yang bilang?”
“Iya... iya. Bawel banget. Pinjam jilbab yang kamu beli tadi ya buat nutupin sementara.”
“Iyaaaaaaaa... ikh lelet banget sih.”
“Mbak... Mbak... sadar Mbak!”
“Mmmmaaf, aku tadi pingsan ya?”
“Iya, memang kenapa sih Mbak pake pingsan segala. Kalo dah tau bengekan, gak usah ke tempat keramaian kaya tadi!”
“Hush! Nit, kamu gak boleh gitu!”
“Saya belum makan dari kemaren, saya cuma minum air dan makan sayur. Itupun sedikit soalnya saya tidak suka sayur. Saya nyobain seluruh obat pelangsing, gak makan nasi, makanan yang mengandung karbohidrat, lemak dan protein seperti anjuran dalam setiap kemasan obat yang aku minum. Hingga akhirnya lambungku bermasalah dan aku pun mudah terserang penyakit karena daya tahan tubuh yang lemah. Makanya aku sering pingsan.”
“Mbak... Mbak... itu namanya mendzhalimi diri sendiri dan Allah tidak suka manusia seperti itu.”
“Sudah tau seperti itu, masih saja melanjutkan program dietnya.”
“Ya, karna saya nyaman bertubuh seperti ini. Semua cowok melirik saya, banyak cewek-cewek cantik yang ingin berteman dengan saya. Semua orang respect pada saya, terutama tubuh saya.”
“Owalah Mbak, mereka itu memandang Mbak bukan karena rasa sayang, tapi karna nafsu. Pandangan seperti itu hanya bersifat sementara. Sampai ada bahan yang baru, biasanya hanya laki-laki hidung belang yang memandang dari body seperti ini. Kalau mau dipandang laki-laki yang baik-baik, tutuplah aurat sesuai anjuran Allah dan ajaran Rasul. Tidak sedikitpun akan mengurangi kecantikan kita.”
“Mulai berkhutbah... sudah ah, ayo kita pulang! Gimana semua mata tak kan tertuju padanya bajunya kekurangan bahan gini.”
“Sudahlah Nit! Bicaranya yang sopan apa! Lagi pula gak baik bantuin orang setengah-setengah. Nit, aku pinjam gamis dan jilbab ini ya.”
“Buat apa?”
“Ntar juga tau,” ku bawa cewek tadi ke toilet dan mengganti bajunya.
“Lha?”
“Ntar aku ganti Nit. Ikhlaskan?”
“Tapi....”
“Ikhlas gak? Demi dakwah, agama dan martabat kita sebagai wanita! Hmmm????”
“Iya deh. Sekarang pulang ya! Capek.”
“Kita traktir makan aja dulu Nit.”
“Ikh kaya orang banyak duit saja. Padahal tiap hari hemat mulu.”
“Hemat itu perlu. Tapi gak boleh kikir!”
“Iya deh Buk Ustadzhah.”
***
“Kamu tau gak aku merasakan apa?”
“Mana aku tahu.”
“Kog jawabnya gitu?”
“Ya iyalah. Apa yang kamu rasakan hanya kamu dan Allah yang tahu.”
“Aku senang banget hari ini bisa bantuin orang lain.pokoknya ada kepuasan tersendiri.”
“So, masih mau diet? Sering pingsan, bengekan hah... hah... hah...”
“Ngeledekin Sha? Awas kamu! Kalo dapat, aku cincang-cincang.”
“Kejar saja kalo berani! Wek... haha....” Raisha tau banget Anita tidak akan bisa mengejarnya karena larinya yang lambat akibat dari porsi tubuhnya. Meskipun di satu sisi jadi orang yang berwibawa, mereka juga tidak pernah melupakan keceriaan, “Ceria itu penting.”
Jadi pelajaran bagi Anita, dia melupakan pil-pil diet, program diet dan impiannya jadi cewek langsing bertubuh bak gitar spanyol. Cewek yang kami temui di mall telah menutup auratnya dan menjaga hijabnya, sangat anggun. Kami bertemu di acara ta’liman se-kota. “Allah tidak akan merubah suatu kaum, jika tidak kaum itu sendiri yang merubahnya. Namun perubahan tersebut bertujuan pada kebaikan, Allah pastinya akan meridhoi. Insya Allah...”
^^THANK YOU^^
FEBRUARI 2011

Cerita ini hanya fiktif belaka. Jika ada persamaan nama, tokoh, tempat kejadian dan perannya itu hanya kebetulan saja.
SiLaKaN kRiTik dAn SaRaNnyA tEmaN2!!!!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Istilah-istilah pada Microsoft office dan pengetikan cepat MS office

BENTUK HIDUP TUMBUHAN

BATANG TUMBUHAN