Minggu, 16 Oktober 2011

DAUN TUMBUHAN


Pengertian Daun
Daun merupakan salah satu organ tumbuhan yang tumbuh dari batang, umumnya berwarna hijau dan terutama berfungsi sebagai penangkap energi dari cahaya matahari melalui fotosintesis. Daun merupakan organ terpenting bagi tumbuhan dalam melangsungkan hidupnya karena tumbuhan adalah organisme autotrof obligat, ia harus memasok kebutuhan energinya sendiri melalui konversi energi cahaya menjadi energi kimia.
Morfologi bentuk daun sangat beragam, namun biasanya berupa helaian, bisa tipis atau tebal. Gambaran dua dimensi daun digunakan sebagai pembeda bagi bentuk-bentuk daun. Bentuk dasar daun membulat, dengan variasi cuping menjari atau menjadi elips dan memanjang. Bentuk ekstremnya bisa meruncing panjang. Daun juga bisa bermodifikasi menjadi duri (misalnya pada kaktus) dan berakibat daun kehilangan fungsinya sebagai organ fotosintetik. Daun tumbuhan sukulen atau xerofit juga dapat mengalami peralihan fungsi menjadi organ penyimpan air.
Daun segar (kiri) dan tua. Daun tua telah kehilangan klorofil sebagai bagian dari penuaan. Warna hijau pada daun berasal dari kandungan klorofil pada daun. Klorofil adalah senyawa pigmen yang berperan dalam menyeleksi panjang gelombang cahaya yang energinya diambil dalam fotosintesis. Sebenarnya daun juga memiliki pigmen lain, misalnya karoten (berwarna jingga), xantofil (berwarna kuning) dan antosianin (berwarna merah, biru atau ungu, tergantung derajat keasaman). Daun tua kehilangan klorofil sehingga warnanya berubah menjadi kuning atau merah (dapat dilihat dengan jelas pada daun yang gugur).
1. Fungsi Daun
a.       Tempat terjadinya fotosintesis. Pada tumbuhan dikotil, terjadinya fotosintesis di jaringan parenkim palisade. Sedangkan pada tumbuhan monokotil, fotosintesis terjadi pada jaringan spons.
b.      Sebagai organ pernapasan. Di daun terdapat stomata yang befungsi sebagai organ respirasi.
c.       Tempat terjadinya transpirasi.
d.      Tempat terjadinya gutasi.
e.       Alat perkembangbiakkan vegetatif. Misalnya pada tanaman cocor bebek (tunas daun).
2. Daun majemuk
Ciri-ciri daun majemuk antara lain adalah :
a.       Pada satu daun majemuk semua anak daun terjadi bersama-sama dan biasanya gugur bersama pula
b.      Pertumbuhan terbatas
c.       Tidak terdapat kuncup dalam ketiak daun

Bagian-bagian daun majemuk adalah:
a.       Ibu tangkai daun (petiolus communis)
b.      Rakis (rachis), perpanjangan dari ibu tulang daun
c.       Tangakai anak daun (petiololus)
d.      Helaian anak daun (foliolum)
e.       Tangakai anak daun tingkat 1,2,3,... ditemukan pada daun majemuk rangkap
f.       Stipela, daun penumpu pada kaki setiap anak daun pada daun majemuk
g.      Stipula, penumpu pada kaki ibu tangkai daun
Menurut susunan anak daun pada tangakai, daun majemuk dibedakan menjadi:
a.       Daun majemuk menyirip ( pinnatus), yakni anak daun tersusun di kiri kanan ibu tangkai
b.      Daun majemuk menjari (palmatus), yakni semua anak daun tersusun memencar pada ujung ibu tangakai
c.     Daun majemuk bangun kaki (pedatus), yakni susunan anak daun pada daun majemuk menjari, tetapi anak daun paling pinggir tidak duduk pada ibu tangkai melainkan pada tangkai anak daun yang di sampingnya
d.   Daun majemuk campuran (digitato pinnatus), yakni daun majemuk ganda yang mempunyai cabang-cabag ibu tangkai memencar tetapi cabang-cabang ibu tangkai terdapat anak-anak daun yang tersusun menyirip.
Jika kita memperhatikan daun berbagai jenis tumbuhan, akan terlihat, bahwa ada diantaranya yang pada tangkai daunnya hanya terdapat satu helaian daun saja. Daun yang demikian dinamakan daun tunggal (folium simplex). Tangkainya bercabang-cabang dan baru pada cabang tangkai ini terdapat helaian daunnya, sehingga di sini pada satu tangkai terdapat lebih dari satu helaian daun, dan disebut daun majemuk (folium compositum).
Suatu daun majemuk dapat dibedakan bagian-bagian berikut: Ibu tangkai daun (potiolus communis), yaitu bagian daun majemuk yang menjadi tempat duduknya helaian-helaian daun, yang masing-masing dinamakan anak daun (folium). Ibu tangkai daun ini dapat dipandang merupakan penjelmaan tangkai daun tunggal ditambah dengan ibu tulangnya, oleh sebab itu kuncup ketiak pada tumbuhan yang mempunyai daun majemuk, letaknya juga diatas pangkal ibu tangkai pada batang.
Tangkai anak daun (petiololus), yaitu cabang-cabang ibu tangkai yang mendukung anak daun. Bagian ini dapat dianggap sebagai penjelmaan suatu tulang cabang pada daun tunggal, oleh sebab itu didalam ketiaknya tak pernah terdapat suatu kuncup. Anak daun (foliolum), bagian ini sesungguhnya adalah bagian-bagian helaian daun yang karena dalam dan besarnya toreh menjadi terpisah-pisah.
Karena suatu daun majemuk dapat dipandang berasal dari suatu daun tunggal, pada daun majemuk dapat pula kita temukan bagian lain seperti pada daun tunggal, misalnya: Upih daun (vagina), yaitu bagian dibawah ibu tangkai yang lebar dan biasanya memeluk batang, seperti pada daun pinang (Areca catechu L.) Sama halnya dengan daun tunggal, pada pangkal ibu tangkai daun majemuk atau di dekat pangkal ibu tangkai itu dapat pula di temukan sepasang daun penumpu, seperti misalnya pada daun mawar (Rosa sp.), yang berupa dua daun kecil melekat pada kanan kiri pangkal ibu tangkai daun dan juga pada daun kacang kapri (Pisum sativum L.) yang disini merupakan sepasang daun yang lebar dan ikut serta menunaikan tugas daun sebagai alat untuk berasimilasi. Sebagai tambahan dapat juga kiranya dikemukakan, bahwa: pada satu daun majemuk semua anak daun terjadi bersama-sama dan biasanya runtuh bersama-sama pula. Sedang suatu cabang dengan daun-daun tunggal mempunyai daun yang tidak sama umur maupun besarnya dan tentu saja daun-daun tadi tidak runtuh bersama-sama.
Pada suatu daun majemuk seperti daun tunggal pula terdapat pertumbuhan yang terbatas, artinya tidak bertambah panjang lagi dan ujungnya tidak mempunyai kuncup. Pada daun majemuk tak akan terdapat kuncup dalam ketiak anak daun, sedang pada pada suatu cabang biasanya dalam ketiak daunnya terdapat satu atau mungkin lebih dari satu kuncup.
Walaupun demikian selalu ada hal-hal yang jika kurang seksama pemeriksaannya dapat menyesatkan, seperti misalnya: pada pohon cerme (Phyllanthus acidus Skeels) dan belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi L.), kedua pohon ini memiliki daun majemuk, tetapi daun majemuk ini sampai agak lama masih memperlihatkan pertumbuhan memanjang, sehingga anak daunnya mempunyai umur yang berbeda. Oleh karena itu juga tidak luruh bebarengan.
Pada tumbuhan meniran (Phyllanthus niruri L.) dan katu (Sauropus androgynus Merr.) terdapat cabang-cabang dengan daun tunggal yang berselang-seling yang tumbuh mendatar dari batang pokok dan terbatas. Cabang-cabang daun ini akan kita kira daun majemuk, tetapi dugaan itu keliru karena dari ketiak-ketiaknya pada waktu-waktu tertentu akan tampak keluar bunga yang kemudian jadi buah pula.
3. Tata letak daun (filotaksis) dan daun terspesialisasi
Aturan mengenai letak daun dinamakan dengan tata letak daun. Tata letak daun pada batang di bedakan atas:
1.      Pada buku terdapat satu helaian daun
Ø  Monostik, yakni jika dilihat dari atas seluruh daun dapat terdapat pada satu sisi dari batang.
Ø  Distik, yakni dilihat dari atas daun tersusun dalam dua baris
Ø  Trisrik, yakni jika dilihat dari atas daun tersusun dalam tiga baris
Ø  Spiral, jika dilihat dari atas tersusun lebih dari tiga baris
2.      Pada buku terdapat dua helaian daun berhadapan (berhadapan-berselangan/folia opposita)
3.      Pada buku terdapat lebih dari dua daun (berkarang/folia verticillata)
Ada kalanya pada tumbuhan daun-daun duduk sangat rapat dan pendek, sehingga duduk daun pada batang tampak hampir sama tinggi & sukar untuk menentukan urutan tua mudanya. Hal ini dikenal dengan istilah roset.
Roset dapat dibedakan atas dua macam, diantaranya:
a.       Roset akar, yaitu jika batang amat pendek sehingga semua daun berjejal diatas tanah
b.      Roset batang, yaitu jika daun yang rapat berjejal-jejal terdapat pada ujung batang.
Daun terspesialisasi adalah daun yang mempunyai bentuk khusus sehubungan dengan fungsinya. Antara lain adalah:
a.       Daun pelindung. Contoh: Opuntia
b.      Daun peka. Contoh: Mimosa pudica
c.       Daun penyokong. Contoh: Gloriosa superba
d.      Daun dengan daya tarik. Contoh: Bougenvillea spectabillis
e.       Daun untuk perbanyakan. Contoh: Kalanchoe
f.       Daun untuk penyimpan air. Contoh: Aloe vera
g.      Daun pemakan serangga. Contoh: Nepenthes

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar